Kiat Memulai Usaha (1)
Oleh : Gatot Kunta Kumara"Alloh SWT tidak akan merubah suatu kaum, jika kaum tersebut tidak merubah keadaan dirinya sendiri" (Ar Ra'du : 11)
Sebagai ikhtiar manusia untuk menjemput rejeki, maka Alloh SWT memerintahkan manusia untuk bertebaran di muka bumi untuk mencari karunia dari ALloh SWT. Jadi kita bisnis harus diniatkan untuk beribadah kepada Alloh SWT, mencari karunia-Nya yang ditebarkan di dunia ini, sehingga kita akan mendapatkan balasan yang berlipat dengan mengelola usaha tersebut, tidak hanya balasan di dunia namun juga akherat.
Untuk mendapatkan nilai ibadah dalam setiap usaha, maka ada dua syarat yang harus terpenuhi yaitu niatnya harus benar dan caranya mengelola usahanya juga harus benar.
Maka langkah terpenting sebelum kita mulai usaha adalah meluruskan niat kita dalam berusaha. Ada 4 niat yang sangat dianjurkan :
a. Niat untuk bertaqarub kepada Alloh SWT.
Usaha harus kita jadikan sebagai jalan untuk mendekat kepada Alloh SWT. Karena waktu, energi, otak dan segala sumber daya yang kita pergunakan adalah karunia dari ALloh SWT, maka sudah sepantasnya kita pergunakan untuk mengabdi kepada-Nya. Dengan usaha ini semoga Alloh memudahkan dan menjadikan kita hamba-Nya yang bersyukur atas segala nikmat yang telah dikaruniakan Alloh kepada kita.
b. Niat untuk beribadah kepada Alloh SWT.
Waktu yang berlalu, peluh keringat yang mengucur dan energi yang terkuras harusnya menjadi catatan amal kita dan semoga Alloh menjadikan hal tersebut sebagai bekal kita ke akherat. Kalau hanya mengejar keuntungan dan harta benda maka boleh jadi usaha kita belum mendapatkan keuntungan, kita sudah meninggal, maka sangat sayang kita tidak mendapat apa-apa. Namun jika dari awal niat kita untuk beribadah kepada Alloh maka untung atau rugi, segala proses dan aktivitas kita mengurus usaha sudah dicatat sebagai amal sholeh.
c. Menjalin silaturahmai.
Sangat sayang jika kita hanya mengembangkan usaha, dan focus mengelola usaha tanpa menjalin silaturahmi yang lebih baik dengan relasi, teman sekerja, tetangga dan mitra usaha kita. Seharusnya dengan usaha maka sarana untuk menjalin silaturahmi dapat lebih terbuka dan dapat berkembang, karena dapat bertemu dengan relasi dan mitra kerja baru.
d. Menciptakan lapangan kerja.
Sudah sepatutnya usaha yang kita dirikan dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Bukankah Rosulullah, Muhammad SAW, dalam suatu hadis beliau bersabda sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaat untuk orang lain. Maka dengan usaha yang kita kelola, kita dapat menciptakan lapangan kerja, membantu bagi yang kekurangan dan membayar zakat kepada yang berhak. Sehingga keberhasilan usaha dapat dirasakan oleh orang lain tidak hanya oleh kita.
Dari niat yang benar, maka semoga Alloh SWT membimbing kita untuk memulai usaha dan mengelola usaha tersebut agar berkembang dengan baik.
Berikut kiat untuk menyempurnakan ikhtiar kita dalam menjemput rejeki dari Alloh SWT
1. Mulai dari kecil
a. Kecil berarti mulai dari potensi yang kita miliki, baik diri kita atau keluarga, mulai yang terdekat, dan termudah dari kita. Bisa membuat kue, kita mulai dari membuat kue, bisa membuat layang-layang kita mulai dari membuat layang-layang, bisa jadi konsultan, mulai dari memberikan masukan untuk orang lain, bisa mengajar mulai dari mengajarkan untuk orang lain, bisa jadi broker mulai menawarkan barang pada orang lain.
Sebaiknya kita tidak menunggu peluang usaha yang besar, lebih menjanjikan dan lebih menguntungkan. Pada saatnya pelaung-peluang tersebut akan muncul seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya jaringan usaha, kenalan dan mitra bisinis kita.
Ibarat mengangkat ember penuh air, jika hanya 1 ember kita mudah mengangkatnya tetapi jika ada 10 ember penuh dengan air dan diangkat bersama-sama maka sudah lain perkaranya. Perlu bantuan teman, pengaturan waktu yang tepat dan cara berjalan agar air tidak tumpah berceceran. Bisnis dan usaha sama saja, jika kita kemampuannya baru mengatur bisnis dengan omset 10 - 25 juta, maka agar aman kita sebaiknya mulai dari mengelola bisnis dengan omset sebesar itu. Terkadang jika mendadak mendapatkan omset 500 juta atau 1 milyar maka perlu tambahan ilmu untuk mengatur itu semua agar usaha kita berjalan dengan baik. Perlu tambahan tenaga kerja, perlu software keuangan yang pas dan perlu seorang manajer yang handal agar usaha kita berjalan dengan baik.
Dan terkadang jumlah omset dan keuntungan yang langsung besar membuat kita lupa akan karakter pribadi kita. Dulu sebelum usaha sukses kita makan dikedai pinggir jalan, naik motor dan naik angkutan umum tidak ada masalah. Memakai pakaian yang sederhana tidak ada masalah. Namun setelah sukses punya omset dan laba besar, kita gengsi makan disembarang tempat ingin di tempat yang mahal, mencicil mobil, pindah rumah yang lebih besar dan lain sebagainya. Unjung ujungnya tidak ada lain selain kita menghamburkan uang pada sesuatu yang tidak perlu.
Ibarat naik tangga, kita perlu menapaki tangga satu demi satu agar lebih aman, teratur dan terukur. Boleh saja jika kita sudah kuat maka kita melompati anak tangga 2 atau 3 sekaligus untuk mempercepat proses bisnis kita, tetapi yang paling penting adalah kita harus realistis dalam memulai bisnis.
b. Kecil berarti juga seberapa besar kita siap kehilangan modal.
Terkadang kita memikirkan usaha hanya dari sisi keuntugan dan kesenangan yang diperoleh jika usaha kita sukses. Padahal yang terpenting dalam memulai bisnis adalah kesiapan kita jika modal kita hilang atau 6 - 12 bulan ke depan kita belum mendapatkan keuntungan dari bisnis kita.
Maka arti kecil yang kedua adalah seberapa besar keluarga kita dapat mengantisipasi atau mentolerir jika modal hilang. Setiap orang dan keluarga akan berbeda kecil besarnya modal yang dialokasikan untuk bisnis. Satu keluarga boleh jadi 50 juta, 40 juta atau bahkan 5 juta. Yang paling penting adalah jangan sampai saat modal habis atau belum mendapatkan keuntungan maka kita harus tutup lubang gali lubang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Jangan sampai pendidikan anak, kesehatan, listrik dan air justru tidak terbayar gara-gara uang kita semuanya dipergunakan untuk modal usaha.
Jika hal itu terjadi maka ukuran kecil kita perlu dikurangi lagi, jumlah itu masih terlalu besar bagi kita.
c. Kecil juga dapat berarti 20 % dari total uang yang kita miliki saat ini.
Jika kita baru mulai usaha, belum pernah pengalaman sama sekali, belum pernah pengalaman membuka usaha, belum pernah pengalaman bangkrut, maka bijaksana jika kita tidak mengalokasikan semua dana kita untuk bisnis. Boleh jadi maksimal 20 %. Bisnis adalah mencari keuntungan namun jangan lupa bahwa jika tergiur untuk mengejar keuntungan yang potensinya 50 % untung dan 50 % rugi maka, sebaiknya kita menggunakan rumus yang sudah pasti. Bahwa kita punya 100 % maka seharusnya kita mengalokasikan 80 % dalam posisi yang pasti aman dan tidak berkurang, dan 20 % kita buat bisnis dan jika modal habis atau rugi maka kita hanya hilang 20 % saja.
Hal ini memang kelihatannya kita main aman-aman saja, namun untuk mulai bisnis sebaiknya pertimbangan pertama kita adalah keamanan dari dana kita, baru kemudian seberapa besar keuntungan yang kita peroleh.
2. Mulai dari kesungguhan atau hobi.
Satu yang terpentig dalam mulai usaha, adalah perlu kesungguhan dari kita untuk mulai. Harus berkomitmen untuk mengelola dan menjalankan dengan sungguh-sungguh, tidak dalam taraf mencoba-coba, tidak karena gengsi karena teman-teman sudah punya usaha, bukan karena bujukan dan rayuan teman atau tetangga atau saudara. Mulai usaha harus dari hati dan pikiran kita untuk bertekad mulai usaha.
Jika coba-coba atau gengsi maka dapat dipastikan bahwa usaha tersebut akan gagal.
Sangat dianjurkan sesuai dengan hobi kita, karena jika sungguh-sungguh dan hobi maka halangan dan rintangan akan dapat kita hadapi dengan tenang dan kita senantiasa bergerak untuk mencari solusinya. Tapi jika tidak sungguh-sunggh maka kita terkadang ingin sukses serba instan.
Bulan ini buka warung mie ayam, 1 - 2bulan omsetnya belum memuaskan bulan ketiga kita melihat ada pedagang martabak, laku, enak dan keuntungan sangat besar maka kita sudah mulai memikirkan untuk berdagang martabak, sehingga usaha mie baso ogah-ogahan mengelolanya. Dan akhirnya kita membuka usaha martabak, 1 - 2 bulan usahanya kurang memuaskan, kita lihat ada yang buka usaha ayam goreng, laku keras, menguntungkan maka pada saat yang sama kita berpikir bahwa usaha martabak tidak menjanjikan dan kelihatannya ayam goreng adalah usaha yang pas. Maka berikutnya kita jualan ayam goring, begitu terus sehingga kita tidak pernah serius dan sungguh-sungguh dalam mengelola sesuatu. Tetapi kalau dari awal sudah ada kesungguhan dan juga hobi maka minimal 6 - 12 bulan kita tidak mudah untuk tergoda pindah usaha karena kita menyukainya.
3. Setiap bisnis berpeluang untuk sukses, kunci adalah sumber daya manusianya.
Jika ada yang mengatakan bahwa usaha yang kita mau jalankan tidak akan berhasil, gagal, bangkrut maka jangan dengarkan. Karena boleh jadi mereka yang mengatakan begitu pernah gagal menjalankan bisnis yang sama.
Dalam usaha kuncinya bukan di modal besar, bukan di ada tidaknya pasar tetapi kuncinya adalah di orang yang mengelolanya. Boleh jadi orang yang mengatakan begitu tidak pas/cocok mengelola usaha tersebut, tetapi jika kita jalankan sendiri ternyata kita cocok maka sangat rugi jika kita mendengarkan pesan negatif orang lain dan membuat kita juga berpikir hal yang sama.
Maka kita harus memilih pengelola yang handal, profesional jika memang akan mengaji orang atau tidak kita tangani sendiri. Merekrut orang jangan karena kasihan, saudara, tetangga yang menganggur, tetapi memang karena lolos seleksi dan kualifikasi orang-orang yang kita pekerjakan mampu untuk menjalankan usaha tersebut. Jauh lebih sulit untuk mengeluarkan dan memutuskan kontrak pekerja yang memiliki ikatan emosional tinggi dengan kita daripanda kita memberhentikan pekerja yang tidak ada hubungan emosional sama sekali dengan kita.
4. Usaha harus dengan ilmu.
Mulai usaha dan bisnis tanpa ilmu yang memadai maka artinya bunuh diri. Setiap bisnis memiliki 2 mata uang, satu untung satu rugi. Sehingga perlu bekal dan kemampuan yang cukup untuk melakukan bisnis.
Ada 3 hal yang perlu dikuasi sebelum memuali usaha :
a. Bagaimana memasarkan produk atau jasa kita?
b. Bagaimana bisnis kita ini mendapatkan keuntungan?
c. Kemana dan kepada siapa jika terjadi masalah, harus bertanya?
Setiap usaha faktor yang sangat penting aalah pemasaran, dan menurut Safir Senduk ada 2 kategori tentang pasar yaitu menciptakan pasar baru dengan cara mengedukasi masyarakat dan yang kedua adalah merebut pasar yang sekarag sudah ada. Kita harus mengedukasi masayarakat jika produk dan barang kita adalah sesuatu yang baru dan belum dikenal masyarakat, sehingga perlu sosialisasi dan promosi yang kuat. Sedangkan untuk merebut pasar maka kuncinya adalah nilai tambah produk dan barang kita dibandingkan dengan produk dan barang orang lain. Jangan membuka usaha jika dari awal kita sudah tahu bahwa tidak ada pasarnya. Maka berhentilah dan berfikir sejenak karena boleh jadi kita harus cari peluang usaha yang lain.
Kita juga harus tahu dengan cara bagaimana bisnis kita menghasilkan keuntungan? Cara yang paling mudah adalah mengetahui alur keuangan dari awal sampai akhir, karena kalau kita tahu maka jika terjadi sesuatu kita mudah untuk mengantisipasinya. Uang bagaiakan darah dalam tubuh kita, jika tidak ada darah maka tubuh kita akan sengasara kemudian mati. Bisnis yang keuntungannya besar tetapi cash flowanya amburadul maka biasanya bisnis tersebut tidak akan bertahan lama. Saat usaha sudah berjalan maka prioritas adalah mengendalikan cash flow keuangan.
Orang yang tepat untuk menanyakan sesuatu adalah orang yang selama ini sudah menjalankan usaha dengan sukses, dan kesanalah kita harus minta nasehat dan saran jika bisnis kita mengalami kesulitan. Tidak perduli orang itu hanya tukang sayur, pedagang kelontongan, pedagang roti tapi mereka adalah guru yang terbaik bagi kita jika kita bergerak dalam usaha yang sama.
(bersambung)

|