Jenis Dan Manfaat Tanaman Obat (1)
Oleh : BALITTROJenis dan manfaat tanaman obat yang ada di Indonesia sangat banyak, namun masih sedikita yang dikenal oleh masyarakat, sehingga pemanfaatannya masih terbatas. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman obat asli (indigenous) Indonesia juga tidak kalah dengan tanaman obat modern karena banyak mengandung zat gizi dan zat kimia yang bermanfaat sebagai obat-obatan. Diantara tanaman obat indigenous tersebut adalah sebagai berikut:
1. Bayam (Amaranthus sp.).
Bayam merupkan salah satu jenis tanaman obat ataupun sebagai sayuran yang banyak digemari masyarakat termasuk anak-anak. Harganya murah dan mudah diperoleh. Bayam dikenal sebagai sumber zat besi (Fe) 3.9 mg untuk pembentukan sel darah merah supaya tidak kurang darah (anaemia), kalsium 267 mg yang penting untuk pembentukan tulang, vitamin (A, B1, C, K), protein 3.5 g untuk pembentukan sel, karbohidrat 6.5 g, mineral seperti fosfor (P) 67 mg. Kandungan kalsium yang tinggi pada bayam sangat baik untuk perkembangan tulang anak-anak, ibu-ibu menyusui dan wanita lanjut usia.
Bayam juga mengandung serat tinggi sehingga sangat baik untuk pencernaan dan mencegah kanker. Zat aktif yang berkhasiat yang terkandung pada bayam adalah amarantin. Bayam juga bermanfaat sebagai obat mencegah anaemi, menjaga kesehatan usus, memperkuat akar rambut, mempertahankan kebugaran tubuh (Deptan, 2003). Selain itu bayam dapat digunakan untuk mengobati disentri, diare, mencegah keputihan, melancarkan ASI, buang air kemih tidak lancar, sakit tenggorokan, radang saluran pernafasan, batu empedu, wasir, tbc kelenjar, radang kulit, bisul dan obat untuk digigit ular (Wijayakusuma et al., 1994). Walaupun berkhasiat untuk kesehatan, tetapi bagi yang menderita gangguan limpa sebaiknya mengurangi konsumsi bayam (Deptan, 2003).
2. Paria (Momordica charantia L.)
Paria merupakan salah satu jenis tanaman obat yang pemanfaatannya terbatas karena rasanya pahit. Namun paria mengandung gizi yang baik sebagai sumber nutrisi, dalam 85 gram paria terkandung kalori 15 kal, protein 1g, vitamin A 6 %, vitamin C 12 % zat besi 2 %(Deptan, 2003). Selain sumber nutrisi pada paria juga mengandung zat aktif karantin yang terbukti memiliki aktivitas sebagai anti diabetes. Paria juga mengandung protein - dan - momorkaran yang dapat meningkatkan sisitim pertahanan tubuh dengan meningkatkan aktivitas limfosit T dan B (Lee Huang et al., 1995). Bisa digunakan sebagai alat kesuburan (KB) untuk pria serta menekan perkembangan sel kanker. Disamping itu ditemukan sejenis protein "MAP 30" yang berkhasiat untuk mengobati tumor dan infeksi HIV.
3. Mengkudu (Morinda citrifolia L.)
Mengkudu telah dkenal lama sebagai tanaman obat dan sumber obat tradisional. Daun mengkudu yang muda banyak dimanfaatkan untuk lalap dan sebagai pembungkus pepes ikan, sedangkan buahnya untuk sumber obat-obatan. Daun mengkudu mengandung protein, kalsium, zat besi, karoten dan askorbin, sedangkan buahnya mengandung alkaloid dan triterpenoid. Daun mengkudu bermanfaat untuk sakit pegal linu. Pada buah mengkudu terkandung xeronin, yang membantu dalam memperbaiki fungsi kelenjar tiroid dan kelenjar timus yang keduanya berperan dalam sistim kekebalan tubuh. Disamping itu pada mengkudu ditemukan damnacanthal, yang berkhasiat untuk kanker dengan cara mengembalikan sel kanker atau sel abnormal menjadi normal kembali.
4. Pegagan (Centella asiatica L. Urban)
Pegagan (Centella asiatica L. Urban) merupakan salah satu tanaman obat yang telah dimanfaatkan sebagai bahan ramuan obat tradisional baik di Indonesia maupun negara lainnya. Selain itu, pegagan juga banyak dimanfaatkan sebagai sayuran (lalapan mentah atau dimasak) di berbagai negara di Asia Tenggara (kecuali Philippina) dan di Sri Lanka. Selain itu, di Thailand, Kamboja, Laos dan Vietnam dibuat minuman jus dari daun pegagan yang ditambahkan sedikit gula sebelum diminum untuk mengatasi rasa pahit. Konsumsi rutin berupa minuman ini terkait khasiat pegagan untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan.
Pegagan merupakan salah satu tanaman obat yang telah dimanfaatkan sebagai bahan ramuan obat tradisional baik di Indonesia maupun negara lainnya. Secara empirik pegagan banyak digunakan untuk mengobati berbagai indikasi atau gejala penyakit, antara lain batuk, menurunkan tekanan darah tinggi, masuk angin, demam, wasir, diuretik, mendinginkan, merangsang nafsu makan, memperbaiki pencernaan, bisul, luka bernanah, tbc kulit, lepra dsb.
Dalam kitab Ayuverda di India pegagan dimanfaatkan untuk pengobatan epilepsi. Di Indonesia, pegagan dimanfaatkan sebagai obat anti pikun, obat penyakit kulit, anti stress, anti radang, anti kanker, serta untuk kosmetika dll. Di Thailand sudah dibuat minuman dalam kaleng penambah stamina dan dijual secara komersial. Di Vietnam digunakan untuk mengobati sakit gila dan hepatitis akut. Penelitian di Malaysia menunjukkan bahwa pegagan berpotensi sebagai bahan obat anti kanker ovarium.(Nur Kartinee et al., 2000 cit Bermawie et al., 2005).
Masyarakat Sunda di daerah Jawa Barat sudah sejak lama mengkonsumi pegagan sebagai obat dalam bentuk lalapan. Khasiat yang dirasakan oleh masyarakat yang biasa mengkonsumsi pegagan secara rutin adalah meningkatnya vitalitas, meningkatkan daya ingat, mengatasi pikun, mengatasi tulang keropos pada wanita lansia, meningkatnya kecerdasan pada anak anak, dan awet muda. Saat ini di Indonesia pegagan lebih dikenal sebagai tanaman obat dibanding tanaman sayuran.
Di berbagai negara seperti Malaysia, India, dan Sri Lanka umumnya masyarakat mengkonsumi pegagan dengan cara dimasak dalam bentuk urap. Pegagan mengandung asiaticoside yang berkhasiat sebagai obat. Pegagan banyak dimanfaatkan sebagai bahan ramuan untuk obat melancarkan peredaran darah, peluruh air seni, penurun panas, meningkatkan syaraf ingatan, tonik untuk mengutakan tubuh, anti inflamasi, penurun tekanan darah, obat luka, tbc, lepra, mencegah pikun, meningkatkan ketahanan tumbuh, meregenerasi sel sehingga menghambat penuaan dini, dll (Lasmadiwati et al., 2003).
5. Leunca (Solanum nigrum L.)
Leunca atau biasa juga dikenal sebagai terung ranti/takokak, banyak dimanfaatkan sebagai lalab. Leunca mengandung mineral kalsium, fosfor, zat besi, vitamin A dan vitamin C. Disamping sebagai tanaman obat leunca telah banyak dimanfaatkna oleh masyarakat sebagai obat tradisional untuk mengatasi demam, kejang, radang saluran pernafasan, infeksi saluran kecing, radang payudara (mastitis), keputihan dll (Wijayakusumah et al., 194). Leunca mengandung solamargine dan solasonine yang mempunyai efek anti bakteri. Ekstrak daun leunca dapat menekan sel tumor. Zat aktif solamarin, berkhasiat sebagai anti kanker. Hasil penelitian menunjukkan bahwa leunca efektif terhadap kanker mulut rahim, payudara, oesephagus, liver dan lambung. Leunca juga memiliki khasiat sebagai penambah temaga atau stamina.
6. Terung (Solanum melongena L.)
Terung merupakan tanaman obat buah yang telah lama dikenal masyarakat dan sampai saat ini masih cukup populer. Ada banyak macam terung, tergantung kepada bentuk buahnya. Terung yang banyak dimakan dan dimasak diantaranya terung ungu, sedangkan terung bulat untuk lalap. Dalam 100 g buah terung terkandung protein1.4 g, karbohidrat 4 g, vitamin C 12 mg, lemak 0.3 mg, mineral Ca, P, Na, vitamin B1, B2, A, dsb. Kandungan solasodine pada buah terung berkhasiat sebagai obat untuk keluarga berencana (KB). Disamping itu, terung juga dapat meningkatkan daya seksualitas, mengobati luka setelah operasi, hipertensi, kolesterol tinggi, melancarkan sirkulasi darah, radang saluran pernafasan, radang hati, diabetes, batuk darah, menghaluskan kulit, obat jerawat dan flek hitam, bronkhitis dsb.
7. Jahe (Zingiber officinale Rosc.)
Jahe banyak digunakan untuk bumbu masak, minuman penyegar, manisan, penyedap dan ramuan obat tradisional untuk meningkatkan stamina, penguat syahwat, radang tenggorok, tbc paru, asma, rheumatik, masuk angin, sakit kepala, obat luka, obat gigitan serangga, gigitan ular, kolik, laksatif, penguat lambung, dll. Jahe merah ditetapkan oleh Badan POM sebagai salah satu bahan industri fitofarmaka untuk penyakit kanker. Bahan aktif [6]-gingerol merupakan komponen utama pada rimpang jahe yang memiliki efek farmakologi dan pemberi rasa, terbukti dapat menghambat pembentukan tumor pada kulit tikus percobaan. Selain itu, [6]-gingerol, dan [6]-paradol yang terdapat pada oleoresin menghambat proliferasi kanker pada manusia melalui induksi apostosis, baik pada sel kanker darah leukemia, kanker kolon, dll.
8. Kunyit (Curcuma domestica L.)
Kunyit telah lama dimanfaatkan sebagai lalapan di masyarakat Sunda. Rimpang kunyit muda dimakan bersama dengan nasi. Kunyit mengandung protein11.4 g. Daun kunyit juga dimanfaatkan oleh masyarakat Minangkabau di Sumatra Barat sebagai bumbu masak. Kunyit juga memiliki khasiat sebagai obat, dalam ramuan obat tradisional bermanfaat untuk mencegah dan mengobati berbagai macam penyakit, diantaranya sakit perut/stomakik, stimulant, karminatif, haematik, hepato-protektor, mengobati luka lambung dan ulser, sebagai pewarna makanan, bumbu, melancarkan peredaran darah terutama pada wanita dengan gangguan menstruasi, anti-spasmodik, anti-imflamasi, gangguan pencernaan, dan sebagai insektisida, nematisida, fungisida, bahan kosmetika, antioksidan. Rimpang kunyit mengandung minyak atsiri (turmerone, zingiberene) dan zat berkhasiat dari golongan kurkuminoid (kurkumin I, II dan III). Kurkumin telah banyak diteliti aspek aktivitas biologinya dan lebih dari 1000 publikasi mengenai kurkumin telah diterbitkan mulai aspek kimia, farmakologi, dan mekanisme aksinya.
Hasil penelitian tentang kunyit menunjukkan aktivitas sebagai anti mikroba (broad spectrum), anti kolesterol, anti HIV, anti oksidan, anti tumor (dengan cara menginduksi apostosis/kematian sel kanker), menghambat perkebangan sel tumor payudara (hormone dependent and independent), menghambat ploriferasi sel tumor pada usus besar (dose-dependent), anti invasi sel kanker, anti rheumatoid arthritis (rematik) dan untuk mengobati penyakit penyakit pencernaan (tukak lambung) (Ma'at, 2000).
9. Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.)
Temulawak merupakan salah satu tanaman obat yang memiliki banyak manfaat, baik sebagai obat untuk pengeluaran batu empedu, obat sakit kulit, penurun panas, kejang, memperlancar air susu ibu, obat mencret, disentri, wasir, perut kembung, memperbaiki fungsi hati, menambah nafsu makan, memperlancar melahirkan, menurunkan kadar kolesterol darah dll. Temulawak merupakan salah satu tanaman obat yang memiliki klain khasiat paling banyak dan dibutuhkan dalam jumlah besar untuk kebutuhan industri oba tradisional di Indonesia. Secara empiris temulawak sudah dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai hepatoprotektor, anti-inflamasi, anti kanker, anti-diabetes, anti mikroba, anti kolesterol, menurunkan kadar lemak. Simplisia temulawak tersedia dalam bentuk berbagai sediaan rimpang segar simplisia kering tepung dll. Selain sebagai bahan industri obat rimpang temulawak juga mengandung zat warna kurkumin yang banyak digunakan dalam industri makanan selain itu tepung temulawak dapat dibuat makanan kesehatan.
Hasil penelitian mengenai khasiat temulawak telah dilakukan baik di dalam maupun luar negeri. Komposisi kimia dari rimpang temulawak mengandung pati 29-30 % protein, zat warna kuning atau kurkuminoid 2-4 % serta minyak atsiri 6-10 %. Komponen kimia lainnya meliputi kurkumin, kamfer, glukosida, phellandrene, turmerol, myrcene, xanthorrhizol, isofuranogermacreen dan p-tolylmetilcarbinol (de Padua et al., 2003).
Fraksi minyak atsiri pada temulawak menunjukkan efek koleretik yang sangat kuat, sedangkan zat warna kurkumin pada temulawak mempunyai efek kolekinesis, yang secara bersama-sama kedua fraksi tersebut bekerja secara sinergis. Dua fraksi fenol diarilheptanoid menunjukkan aksi hipolipidemik yang kuat dengan cara menghambat sekresi hepatik trigliserida (Suksamrarn et al., 1994). Curcumene yang meliputi 65 % dari kandungan minyak atsiri pada temulawak juga memiliki efek koleretik kuat.
Penelitian temulawak sebagai koleretik menunjukkan bahwa kurkuminoid meningkatkan sekresi cairan empedu yang akan menyebabkan fraksi-fraksi lipoprotein dalam empedu berkurang sehingga dapat digunakan pada gangguan metabolisme lemak yang berhubungan dengan metabolisme kolesterol yang erat kaitannya dengan aterosklerosis
Penelitian temulawak sebagai anti mikroba menunjukkan hasil yang sangat efektif terhadap mikroba mulut dan gigi seperti Streptococcus mutans, S. Sobrinus, S. Salivarius, S. sanguis, Actinomyces viscosus, Porphyromonas gingivalis, Candida albicans, Lactobacillus casei dan L. acidophilus (Hwang et al.,2000). Zat berkhasiat yang memiliki aktivitas antimikroba ini adalah xanthorrhizol, zat yang tidak berwarna dan tidak berbau.
Sebagai anti inflamasi minyak atsiri menghambat pembentukan enzim siklooksidase yang berperan dalam perubahan asam arakhidonat menjadi prosglandin aktif sehingga agregasi tidak akan terjadi. Tiga fraksi non fenolik dari diarilheptanoid yang diisolasi dari temulawak menunjukkan efek anti inflamasi yang tinggi pada tikus yang diinduksi oleh carrageenin. Uji klinik pemberian kurkumin (zat aktif Temulawak) dalam dosis 1200 mg/ hari menunjukkan perbaikan keadaan reumatik artritis yang berarti.
Temulawak juga bersifat adstringentia yang menyebabkan terjadinya oedema pada muara folikel rambut atau pori-pori kulit, sehingga secara tidak langsung akan mengurangi sekresi sel sebasea. Daya antiseptik ringan yang dipunyai ekstrak temulawak dapat membantu membersihkan kulit dari bakteri-bakteri patogen, sehingga radang jerawat membaik, mengering dan akhirnya sembuh.
Ekstrak air dan ektrak etanol dari rimpang temulawak menunjukkan aktivitas anti tumor dengan cara menghambat kerja enzim / komponen lain yang esensial untuk pertumbuhan tumor. Efek anti kanker temulawak dengan zat aktif xanthorrhizol pada konsentrasi 6 mikromol dapat menyebuhkan kanker kulit pada tikus yang diinduksi dengan DMBA + TPA (Hwang et al., 2000).
Menurut Sidik dan Muhtadi (2005), ekstrak air temulawak menujukkan penurunan zat toksik pada liver yang diinduksi parasetamol dan CCl4 dan memperbaiki fungsi hati. Uji klinik untuk untuk pengobatan penyakit hati di Poliklinik Hepatogastroenterologi RSUD dr Sutomo Surabaya menunjukkan, serbuk Temulawak dapat menurunkan kadar SGPT, GSOT, ALP,GGT dan bilirubin total, serta dapat memperbaiki simptom klinis penderita hepatitis kronik.
Sebagai antioksidan, temulawak mencegah peroksidasi lipid in vitro. Disamping itu, tepung temulawak juga sangat baik untuk makanan kesehatan, karena amilum dari temulawak terbukti berkhasiat sebagai immunomodulator (Hwang et al., 2000).
10. Kencur (Kaempferia galanga L.)
Kencur merupakan salah satu jenis tanaman yang daun dan rimpang mudanya dimanfaatkan sebagai sayuran dan obat. Rimpang kencur mengandung minyak atsiri yang memiliki khasiat sebagai anti bakteri dan anti jamur (Arambewela et al., 1998). Rimpang kencur sudah lama dimanfaatkan sebagai obat sakit perut, stimulan, karminatif, obat batuk, asma, mengurangi bengkak, obat memar, dan reumatik otot. Selain itu daunnya baik mentah maupun dimasak dan dimakan sebagai lalab untuk menghangatkan badan, obat masuk angin dan sakit perut. Rimpang kencur mengandung minyak atsiri 2.4 - 7.2 % yang komposisi utamanya (25 %) etil sinamat dan sampai 30 % mengandung metil p-metoksisinamat. Percobaan pada babi menunjukkan bahwa pemberian etil-p-metoksi-trans-sinamat dapat memperbaiki saluran trachea dan cabang trachea, hasil penelitian ini mendukung klaim empiris kencur sebagai obat asma. Ekstrak etanol rimpang kencur mampu menghambat perkembangan sel kanker serviks (HeLa) (CD50- 10-30 ug/ml) (de Padua et al., 1999).
***

|